Hello, jadi hari ini aku mau sharing sedikit.
Sebelumnya ini aku ambil dari cerita kawan dan pengalaman pribadiku sedikit mengenai cara mendampingi pasangan atau kawan kita yang memiliki GERD atau Panic Attack Disorder.
"Gastroesophageal reflux disease yang biasa disebut GERD atau naiknya asam lambung ke tenggorokan adalah suatu keadaan ketika cairan di lambung berbalik naik ke kerongkongan. Cairan tersebut dapat memicu peradangan dan mengiritasi lapisan dalam kerongkongan.
Gejala utamanya adalah nyeri pada ulu hati yang terus-menerus dan naiknya asam lambung ke kerongkongan. Tapi ada pula orang yang mengalami GERD tanpa merasakan nyeri di ulu hati; mereka mungkin merasakan sakit di dada, suara serak di pagi hari, atau kesulitan menelan. Mereka juga mungkin merasakan urat pada kerongkongan seolah ditarik, mirip saat tersedak makanan. GERD juga dapat menyebabkan batuk kering dan bau napas tak sedap. Hanya dokter yang dapat mendiagnosis GERD. Jika Anda merasakan kondisi seperti ini, segera hubungi dokter."
Jadi seperti yang kalian tau dari ini. GERD ini sejenis penyakit asam lambung atau maag dan biasanya ini memicu terjadinya Panic Attack Disorder.
Sebetulnya banyak sekali orang yang mengalami hal ini, mungkin saja dari taraf ringan, sehingga mereka tidak menyadarinya.
Pasangan saya ini, memiliki panic attack dua tahun yang lalu.
Hal ini pertama kali kami sadari bersama saat kami akan pergi ke Kelong Jaya dari Tanjung Pinang sana untuk trip liburan. (sebelum ketanjung pinang, saya dan pasangan baru saja pulang one day trip ke Singapur bersama teman). Perjalanan kesana lumayan memakan waktu 1 jam menggunakan mobil. Sayangnya, jasa supir yang kami minta tidak begitu familiar dengan tempat ini sehingga kami perlu putar-putar untuk sampai ketempat ini.
Mungkin karna putar-putar ini, kekasih saya mabuk mobil, asam lambung nya naik dan akhirnya ditambah dengan pikiran bahwa kita sedang tersesat. (waktu itu kami sampai stuck dihutan) , sehingga dia mulai panik. Sekujur tubuhnya dingin, dia muntah dan sebagainya. Tapi waktu itu saya dan kekasih masih menganggap itu adalah penyakit maag. Sampai disana semua tidak bertambah baik. Akhirnya kami pulang dan balik ke Batam. Sesampainya di Batam dia drop dan akhirnya masuk rumah sakit.
Kala itu rumah sakit mendiagnosa dia mengalami sakit maag akut yang akhrinya dirawat inap lagi,
I swear sifat pasangan saya ini saat dirawat inap sangat manja dan tidak menyenangkan ditambah dengan faktor-faktor lainnya.
Tapi kami hadapi bersama.
Selama masa sakit dirumah sakit tersebut, dia kerap mengalami panik dan minta dipindahkan lagi ke UGD >__<", (sudah dikamar inap, minta dipindahkan ke UGD lagi?)
hahaha. akhirnya dua hari kemudian dia di izinkan pulang, tapi..
Besoknya dia drop lagi dan masuk rumah sakit lagi.
Masuk lagi kerumah sakit.
Sebenarnya ini dimungkinkan karna dia "
1. Belum pernah Perjalanan Jauh dengan mobil
2. Belum Pernah Sakit Maag
3. Terlalu banyak membuat ekspetasi sendiri
4. Terlalu banyak pikiran negatif dan merasa diri sendiri paling kasihan didunia ini
5. Merasa akan segera mati
Dari saat itulah, setelah keluar rumah sakit dan melewati masa pulih dan sembuh, sifat dia pun berubah 180 derajat.
sekarang dia sering sakit maag, merasa takut kalau mau naik kapal ke SG (padahal dulu sering dan dia itu anak pulau), merasa paling ingin dimengerti dan merasa paling kasihan didunia ini.
dalam masa-masa tahun seperti itu, saya dan pasangan sangat sering berkelahi dan saya lumayan merasa drop dan jenuh pada saat itu, tapi dengan semua ketulusan, saya ajak dia diskusi baik-baik dan coba untuk menghadapinya.
Dia juga inisiatif (syukurlah) dan mencoba mencari psikiater untuk membicarakan masalahnya tersebut. Akhirnya datanglah konklusi kalau dia itu GERD dan Panic Attack Disorder.
Sebelumnya saya mengizinkan dia untuk pergi ke psikiater (karna sudah kami diskusikan bersama) dan saya melarang dia untuk memakan obat yang bersifat "Penenang atau Pain Killer" . karna obat tersebut bekerja langsung ke otak dan efek sampingnya bisa menimbulkan ketergantungan.
Akhirnya setelah konsultasi dan sebagainya, dokter juga memberikan dia obat maag yang bersifat penenang.
Awalnya saya menentang keras semua ini dan kami berkelahi hebat soal hal seperti ini.
Namun akhirnya saya mengizinkannya untuk minum. 3 hari pertama dia minum, dia bilang dia sudah merasa lebih tenang. Saya hanya bilang : "Okelah, baguslah".
Didalam hati saya timbul lagi perasaan pasrah dan tidak mau lagi terlalu banyak urus.
1 bulan kemudian, akhirnya dia berhenti minum obat tersebut karna mahal dan menelan banyak biaya.
Dia mencoba mencari alternatif lain yaitu lewat menonton video youtube dan belajar dari buku.
Setelah saya melihat progressnya yang seperti ini, saya melihat dia ada kemauan untuk sembuh dengan jalan yang lebih sehat dan baik, maka saya mulai timbul lagi semangat untuk membantunya.
Dari hari itu hingga sekarang, hal yang saya lakukan ke dia adalah :
1. nasihati dengan baik dan berikan dia motivasi kalau dia pasti bisa lewati semua ini bersama.
2. Bahas bersama dengannya, sebenarnya dari mana akar ketakutan ini, orang yang biasa takut mengalami perjalanan jauh, pasti akar masalahnya adalah "TAKUT MATI". takut kecelakaan dan sebagainya. (Kalau tidak takut mati, untuk apa takut kemana-mana?)
3. Jelaskan kepada pasangan kita, sebenarnya tidak ada yang perlu ditakuti dari kematian, ajak dia membahas plan dan persiapan menghadapi kematian yang akan tiba-tiba terjadi. (ini bukan mendoakan, tapi ini wajib dibahas dengan pikiran yang terbuka)
4. Ajak dia coba latihan untuk bepergian jauh sembari berekreasi. Kami sering piknik ke Pantai yang terletak di seberang pulau jauh sambil membeli bekal untuk piknik. Kami membawa beberapa kartu uno dan semacamnya untuk dimainkan kesana. Selama perjalanan, ajak dia bicara, bercanda dan sebagainya agar dia tidak memikirkan soal penyakitnya itu.
5. Sebelum bepergian, pastikan dia meminum obat maag dan memakai minyak angin, menempel salonpas di pusar agar mencegahnya masuk angin (maag&masuk angin memicu GERD, GERD memicu Panic Attack)
6. Doakan untuk kesembuhan mentalnya.
7. Ajak dia untuk coba hidup bersama GERD dan PAD nya. Ajak dia untuk berdamai dan sebenarnya kalau kita berani berteman, berarti kita mampu menaklukkan GERD dan PAD yang kita hadapi.
8. Kurangi berkelahi dengan pasangan. Kalau saya pribadi memilih untuk mengalah (dalam urusan ringan) dan diam pada urusan kelahi yang besar, namun mencoba untuk mengkomunikasikannya lagi.
Tapi karna sifatnya yang cenderung masih belum matang, saya juga mampu belum mampu mengontrol emosi saya agar mau mengalah untuknya.
9. Bantu jaga pola makannya dengan sarapan tiap pagi, makan siang sehat tanpa santan mie, makan malam sebelum pukul 7 dan tidak diperbolehkan makan diatas jam 7 lagi (yang ini dia sering mengabaikan dan tetap makan dipukul 9 malam)
10. Terima dia apa adanya dan coba bantu perbaiki sifat-sifatnya yang buruk
Kita harus terlihat pintar dan lebih baik dalam mengerti hal seperti GERD dan PAD daripada pasangan kita yang mengalami karna jika kita bodoh, dia tidak akan mempercayai motivasi dan usulan dari kita.
Lakukan lah yang terbaik dan tetap dampingi mereka.
Sebisa mungkin hindari pengunaan obat penenang dan sebagainya
Coba untuk sering praktik perjalanan, mulai dari yang dekat hingga jauh
Mulai dari mobil hingga pesawat
Semua pasti bisa dilakukan
Semangat untuk kita!
Semangat adalah keadaan pikiran yang membuat kita untuk berbuat sesuai kehendak kita.



